Sekilas Tentang Pelindo IV Samarinda

Pelabuhan Samarinda dengan wilayah kerja pelabuhan seluas 44.297 m2 , tergolong salah satu pelabuhan yang tersibuk di wilayah kerja PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero). Hal ini terlihat dari pencapaian kinerja operasional Pelabuhan dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakir yang telah mengalami perkembangan terutama arus barang petikemas realisasi tahun 2009 sebesar 166.182 teus, dari tahun 2007 sebesar 145.554 teus.

Seiring dengan perkembangan sistem perdagangan, sementara fasilitas pelabuhan yang dimiliki terutama area cadangan lapangan petikemas sangat terbatas dibandingkan dengan perkembangan trafik barang khususnya terhadap petikemas. Hal ini menjadikan pelabuhan Samarinda senantiasa melakukan penyempurnaan dan perbaikan pelayanan fasilitas dan engembangan pelabuhan yang cukup memadai, untuk itu telah dilakukan kerja sama dengan pihak ke tiga dan Pemda setempat untuk membangun TPK Palaran yang berlokasi di Palaran Samarinda.Potensi dari hasil produksi di Samarinda yang cukup menonjol adalah :

Pelabuhan Samarinda yang berada di kota Samarinda Kalimantan Timur,    tepatnya terletak di tepian sungai Mahakam. Pada tahun 1668 awalnya Samarinda di tempati oleh penduduk Bugis Wajo, karena saat itu kerajaan Gowa telah dikuasai oleh Belanda dan sebagian dari mereka hijrah ke Kalimantan Timur, karena tidak menyetujui Perjanjian Bongaya antara Sultan Hasanuddin dan VOC Belanda. Pada tahun 1844 di tandainya Kalimantan Timur di bawah Pemerintahan Belanda, Samarinda terus berkembang dan telah dikenal serta menarik minat pedagang maupun pelaut dari Cina, India.

Hal tersebut disebabkan karena sekitar sungai Mahakam kaya akan hasil-hasil emas, sarang burung, madu, lilin lebah, gaharu, bulu burung yang indah, hasil hutan lainnya dan juga terdapat minyak kental (Napta) yang dijual belikan secara barter sengan mata uang koin.

Pada masa penjajahan Belanda sudah dibangun dermaga dari kayu selain menghubungkan antara Samarinda Ilir dan Samarinda Seberang juga dipakai kegiatan Bongkar / Muat barang.Pada tahun 1978 setelah melihat arus Bongkar/Muat barang dan kunjungan kapal meningkat dari waktu ke waktu, Pemerintah Indonesia memperluas pelabuhan Samarinda dengan beton bertulang,pondasi tiang pancang. Dermaga tersebut diberi nama dermaga III dengan panjang 50 x 12 m.